Tampilkan postingan dengan label BANTIMURUNG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BANTIMURUNG. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 September 2010

OBSERVASI KUPUKUPU DI BANTIMURUNG oleh J.P.ADRIAN KALIS


 Air Terjun Bantimurung Tempo Doeloe
seorang yg banyak jasanya dalam memperkenalkan kupukupu di bantimurung yaitu J.P.ADRIAN KALIS (1949) Adalah seorang kolektor dan ahli yg sampai sekarang koleksinya masih tersimpan dimuseum Belanda dan Inggris. Hal ini menyebabkan banyak ahli di erofa tertarik untuk datang ke Indonesia khususnya ke Bantimurung untuk meneliti dan menyaksikan betapa kekayaan alam di Bantimurung menarik untuk dipelajari dan dimanfaatkan untuk kemajuan / keperluan ilmu pengetahuan.
SIR ALFRED RUSSEL WALLACE (Pencipta Teori Garis Wallace) yg berkunjung ke Bantimurung selama sebulan di Tahun 1857 menemukan kupukupu berjambul (Papilio adrecles) Penemuan ini di abad ke XVIII sangat dipujanya serbagai penemuan fauna poaling unik dan paling indah setelah 17 tahun ia melakukan penelitian dikawasan benua asia. Namun seandainya saja Sir Wallace berada lebih dari sewbulan maka dia akan lebih terpesona lagi karena di daerah ini sebenarnya terdapat ribuan jenis kupukupu yg unik dan indah baik yg terbang siang maupun malam. dan oleh karena itu J.P.ADRIAN KALIS (1949) menjuluki Bantimurung sebagai KINGDOM Of BUTTERFLY (Kerajaan Kupukupu)


Bantimurung Tahun 1990 an

OBSERVASI KUPUKUPU DI BANTIMURUNG TAHUN 1976 - 1985

oleh Raja Kupukupu 
http://www.facebook.com/note.php?note_id=125124507520477
Pada Tahun 1976-1977 diadakan Penelitian identifikasi dan inventarisasi jenis Kupukupu yg terdapat di Bantimurung oleh MARTIN, DOHERTY, L.U.TOXOPUS, H.FRUCHTORFER dan H.AZIS MATTIMU. Observasi yg dilakukan oleh para Biologiwan Internasional ini di prakarsai oleh Universitas Hasanuddin bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten MAROS. dalam penelitian tsb ditarik sebuah kesimpulan bahwa Bantimurung merupakan wilayah yg kaya dengan beragam jenis kupukupu, khususnya jenis PAPILIONIDAE, SATURNIDAE, NOCTUIDAE, NYMPHALIDAE, SPHINGDAE, dan pada penelitian ini ditemukan sedikitnya 103 species kupukupu langka dan jarang ditemukan di tempat lain, hanya ada di Bantimurung..
 
Pada Tahun 1978 seorang Peneliti Jerman bernama Prof.ADELBERT SAITZ menemukan jenis Kupukupu yg belum di kenal Namanya dean beliau mengidentifikasikan sebagai Kupukupu baru bernama ACTIAS SELENA yg termasuk Family SATURNIDAE. Menurutnya ORNITHOPTERA PRIAMUS adalah Jenis yg Sangat Mudah Berkembang Biak di Bantimurung tetapi akan sangat Sulit Berkembang Biak di daerah Lain. sedangkan Jenis ATTACUS ATLAS, IDEA IDEA, IDEA NOVELLA, CETHOSIA, MYRANA, ARGYREUSHIPERBIUS, GRAPHIUM RHESUS (kupukupu JET), PAPILIO GIGON, PAPILIO SATASPIS, adalah merupakan jenis kupukupu khas Bantimurung yg sudah langka dan tidak ada ditempat lain. Salah satu faktor yg Mendukung keberadaan Kupukupu yg berbagai jenis itu adalah HOST PLANTnya banyak tersedia dan cocok serta suasana bunyi deru Air Terjun, termasuk Kelembabannya.
jenis kupukupu khas Bantimurung. IDEA IDEA. Sayap kupukupu ini bisa digulung seperti rokok dan tidak patah / Robek. sayap seperti plastik.
Pada Tahun 1985 H.AZIS MATTIMU (Dosen Universitas Hasanuddin) dibantu oleh Penulis mengadakan Observasi dan Pengamatan, ternyata kehidupan Kupukupu di Bantimurung makin semarak dan jenisnya makin banyak, selidik diam diam ternyata ada peneliti dan beberapa Mahasiswa Universitas Hasanuddin jurusan Biology membawa Kupukupu, ulat, kepompong, dari luar Bantimurung dan dilepas sampai berkembang biak dengan baik sekali sehingga kita akan menemukan kupukupu yg belum dikenal namanya dengan jelas. 

Jika anda berada ditempat lain misalnya Ambon atau pulau seram atau Papua atau di Probolinggo anda akan menemukan jenis kupukupu misalnya PAPILIO BLUMEI yg sangat cantik warnanya itu, maka Jenis ini di Bantimurung warnanya makin atraktrif nan cantik disertai kombinasi warna yg sangat menarik, ini berarti ada sesuatu unsur yg dimakan yg menyebabkan kupukupu tersebut menjadi lebih sempurna dan menjadi tantangan bagi Biologiwan untuk menelitinya.. (Andi Sudirman Parenrengi)
Jenis Kupukupu ini banyak dijumpai di Taman Nasional  Bantimurung  Bulusaraung - Kabupaten Maros - Pangkep- Sulawesi Selatan

Senin, 06 September 2010

Presiden Juluki Wisata Bantimurung sebagai Kingdom of The Butterfly


Bapak Presiden Republik Indonesia (Soesilo Bambang Yudhoyono) bersama ibu Ani Yudhoyono, di air terjun Bantimurung tanggal 26 November 2006

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan keindahan alam sepanjang jalan menuju Bantimurung tak kalah hebatnya dengan klif atau karst di Quilin, Republik Rakyat Tiongkok, yang membentang di sepanjuang Sungai Litian.

Pemandangan bukit karst yang menjulang dan berderet dari wilayah Kabupatren Maros hingga Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, itu merupakan keajaiban dunia. Karena itu, Presiden mengusulkan agar taman dunia itu dijuluki sebagai Kingdom of The Butterfly.



"Sehingga taman ini tetap dijaga kelestariannya, karena suatu  saat akan dikembangkan potensinya," ujar Persiden
Usai membuka peringatan Gerakan Nasional Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat Tahun 2006. di Taman Wisata Alam Bantimurung di Kalabirang, Maros,


BANTIMURUNG DALAM PERSPEKTIF SEJARAH


Dalam Perjanjian Bungaya I dan II (1667-1669), Maros ditetapkan sebagai daerah yang dikuasai langsung oleh Belanda. Hal ini menjadikan bentuk-bentuk pemerintahan atau kerajaan-kerajaan kecil yang berada di dalam wilayah Kerajaan Maros diformulasikan dalam bentuk Regentschaap yang dipimpin oleh penguasa bangsawan lokal bergelar Regent (setingkat bupati).

Setelah itu, Maros berubah menjadi Distrik Adat Gemenschaap yang dipimpin oleh seorang kepala distrik yang dipilih dari bangsawan lokal dengan gelar Karaeng, Arung atau Gallarang. Kerajaan Simbang merupakan salah satu Distrik Adat Gemenschaap yang berada dalam wilayah Kerajaan Maros. Distrik ini dipimpin oleh seorang bangsawan lokal bergelar Karaeng.

Pada sekitar tahun 1923, Patahoeddin Daeng Paroempa, menjadi Karaeng Simbang. Ia mulai mengukuhkan kehadiran kembali Kerajaan Simbang dengan melakukan penataan dan pembangunan di wilayahnya. Salah satu program yang dijalankannya ialah dengan melaksanakan pembuatan jalan melintas Kerajaan Simbang agar mobilitas dari dan ke daerah-daerah di sekitarnya menjadi
lancar.

Pembuatan jalan ini, rencananya akan membelah daerah hutan belantara. Namun, suatu waktu pekerjaan tersebut terhambat akibat terdengarnya bunyi menderu dari dalam hutan yang menjadi jalur pembuatan jalan tersebut.

Saat itu, para pekerja tidak berani melanjutkan pekerjaan pembuatan
jalan. Karena suara gemuruh tersebut begitu keras. Karaeng Simbang yang memimpin langsung proyek ini lalu memerintahkan seorang pegawai kerajaan untuk memeriksa ke dalam hutan belantara asal suara itu.

Usai sang pegawai kerajaan melakukan pemeriksaan lokasi, Karaeng Simbang lalu bertanya; “Aga ro merrung?” (Bahasa Bugis; suara apa itu yang bergemuruh?).
“Benti, Puang,“ (Air, Tuanku), jawab sang pegawai tadi. "Benti", adalah Bahasa Bugis halus atau tingkat tinggi untuk air. Kosa kata seperti ini biasanya diucapkan oleh seorang hamba atau rakyat jelata ketika bertutur dengan kaum bangsawan. Mendengar laporan tersebut, Karaeng Simbang lalu berkenan melihat langsung asal sumber suara gemuruh dimaksud.

Sesampainya di tempat asal suara, Karaeng Simbang terpana dan takjub menyaksikan luapan air begitu besar merambah batu cadas yang mengalir jatuh dari atas gunung. Beliau lalu berujar; “Makessingi kapang narekko iyae onroangngnge diasengi Benti Merrung!“ (Mungkin ada baiknya jika tempat ini dinamakan air yang bergemuruh).

TEMPAT ITU DISEBUT KAMPUNG BARU

Berawal dari kata Bentimerrung inilah kemudian berubah bunyi menjadi Bantimurung. Penemuan air terjun tersebut membuat rencana pembuatan jalan tidak dilanjutkan. Malah, daerah di sekitar air terjun tersebut dijadikan sebagai sebuah perkampungan baru dalam wilayah Kerajaan Simbang. Kampung ini dikepalai oleh seorang kepala kampung bergelar Pinati Bantimurung.

Saat ini, Bantimurung menjadi salah satu kecamatan dalam wilayah
Kabupaten Maros, begitu pula Simbang. Sedangkan air terjun Bantimurung menjadi kawasan wisata alam. Air terjun ini berasal dari luapan air yang mengalir jatuh dari atas, merambah batu cadas dengan ketinggian kurang lebih 30 meter dari permukaan tanah. Air terjun ini menggemuruh sepanjang hari sehingga menjadikannya tempat rekreasi yang sangat populer.



Kawasan wisata alam Bantimurung terletak di lembah bukit kapur.
Dikelilingi pemandangan indah dan berhawa sejuk. Lokasi ini mudah dicapai karena kendaraan umum dari dan ke lokasi selalu tersedia. Apalagi jaraknya hanya sekitar 12 kilometer dari ibukota Kabupaten Maros, atau sekitar 45 kilometer dari pusat kota Makassar.



Selain air terjun, terdapat objek wisata lain di sekitar kawasan ini yakni goa mimpi dan goa batu. Goa mimpi merupakan salah satu tempat yang digemari. Karena di dalam goa terdapat stalaktit (relief batu yang terbentuk dari tetesan air dan menggantung di atas langit-langit goa) indah dengan kumpulan kristal.

Di sekelilingnya diterangi lampu sehingga memperindah suasana di dalam goa. Inilah yang membuatnya disebut goa mimpi karena ketika berada di dalamnya, kita seakan-akan berada dalam mimpi. Selain itu, kondisi alam tropis yang subur menjadikan kawasan ini sebagai pemukiman ideal bagi berbagai jenis kupu-kupu. Saat ini tercatat sekitar 150 spesies kupu-kupu yang hidup di sini. Beberapa diantaranya merupakan spesies khas yang sulit ditemui di daerah lain. Tak heran bila tempat ini pernah terpilih sebagai pelaksana konferensi internasional kupu-kupu.



Dalam mempromosikan kawasan wisata alam Bantimurung, Pemerintah Daerah Kabupaten Maros pernah membuat akronim nama Bantimurung yang mirip parodi yaitu: Banting Murung, tempat anda membanting kemurungan.

Adapun Karaeng Simbang wafat pada tahun 1957 dan dimakamkan di Belakang Masjid Pakalu (salah satu kampung dalam wilayah Kerajaan Simbang, sekarang bernama Lingkungan Pakalu dalam wilayah Kecamatan Bantimurung), yang dibangun dengan dana swadaya di atas tanah pribadinya. Karena itulah ia bergelar Matinroe ri Masigi’na (yang dimakamkan di mesjidnya). Nama lengkapnya, Patahoeddin Daeng Paroempa Sultan Iskandar Muda Matinroe ri Masigi’na.(p!) .. Panyingkul.Com

Jumat, 27 Agustus 2010

KARS MAROS PANGKEP TERLUAS KEDUA DI DUNIA

Kawasan Karst Maros Pangkep merupakan yang terbesar dan terindah kedua di dunia setelah kawasan karst di Cina. Gugusan karst yang terdapat di Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan yang sebagian masuk dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung membentang seluas 43.750 hektar.

Keunikan kawasan karst Maros Pangkep yang tidak terdapat pada kawasan-kawasan karst lainnya di Indonesia karena mempunyai bentang alam yang unik dan khas yang biasa disebut tower karst. Di kawasan itu, bukit-bukit kapur menjulang tinggi dengan tebing yang menantang. Bahkan bersama kawasan Karst di Pegunungan Sewu, kawasan karst Maros pangkep telah diusulkan sebagai situs warisan budaya dunia (World Heritage) kepada UNESCO sejak 2001 silam.

KEISTIMEWAAN KARST MAROS PANGKEP

Karst Maros Pangkep bukan sekedar deretan cadas. Berbeda dengan kebanyakan kawasan karst di tempat-tempat lain yang pada umumnya berbentuk Conicall Hill Karst (berbukit kerucut), karst Maros Pangkep berbentuk menara-menara (tower karst) yang berdiri sendiri maupun berkelompok membentuk gugusan pegunungan batu gamping yang menjulang tinggi. Di antara bukit-bukit tersebut membentang dataran, dengan permukaannya yang rata. Bukit-bukit menara tersebut sejenis dengan yang ada di Cina Selatan dan Vietnam.

Di kawasan karst Maros Pangkep sedikitnya terdapat 268 gua. Selain memiliki stalaktit dan stalakmit yang indah, gua-gua itu juga menjadi habitat fauna langka dan merupakan situs prasejarah. Bahkan gua terpanjang dan terdalam di Indonesia pun ditemukan di karst Maros. Gua terdalam berbentuk sumur tunggal dengan kedalaman 260 meter ditemukan di Leang Leaputte. Adapun gua terpanjang diperkirakan ditemukan di sistem gua Salukkan Kallang, yang panjangnya mencapai 27 km.

Gua yang terbentuk sebagai hasil pencucian batuan karbonat itu tidak hanya menghasilkan ornamen gua yang sangat cantik. Tetapi juga menjadi tempat spesies manusia berlindung di masa lampau. Gua-gua yang dihuni oleh manusia dan kebudayaannya di masa lampau. Inilah yang disebut sebagai gua prasejarah.

Ada beberapa gua prasejarah yang ditemukan di kawasan karst Maros Pangkep dengan berbagai peninggalan manusia prasejarah seperti:

* Gua Ara: mata panah bergigi dan bersayap, lancipan muduk, dan gerabah.
* Gua Awal: gerabah
* Gua Batu Ejaya: serpih bilah, mikrolit, lancipan muduk, dan gerabah.
* Gua Bola Batu: serpih bilah, mikrolit, mata panah berpangkal bundar, dan gerabah.
* Gua Cadang: mata panah berpangkal bundar dan gerabah
* Gua Leang Balisao: serpih bilah dan mata panah berpangkal bundar
* Gua Leang Burung 1: mata panah berpangkal bundar serta mata panah bergigi dan bersayap
* Gua Leang Burung 2: serpih bilah yang kasar dan besar
* Gua Leang Cekondo: serpih bilah dan mata panah berpangkal bundar
* Gua Leang Karrasa: serpih bilah yang kasar dan besar serta gerabah
* Goa Leang-leang: lukisan batu dan perkakas dari batu.
* Gua Sumpang Bita: lukisan batu dan perkakas dari batu.

Kawasan Karst Maros Pangkep juga menjadi habitat berbagai satwa langka dan endemik antara lain monyet hitam (Macaca maura) dan 125 jenis kupu-kupu dari sekitar 400 jenis yang pernah ada di kawasan karst tersebut. Biota unik juga hidup di dalam gua di kawasan ini. Beberapa diidentifikasi sebagai jenis satu-satunya di dunia.

Biota unik yang hidup di sana memiliki ciri khas akibat kehidupan gelap di dalam gua. Kulit transparan, matanya mengecil bahkan buta, sementara organ sensoriknya berkembang pesat. Arthropoda misalnya, memiliki antena yang panjang sebagai organ perasa. Temuan-temuan itu antara adalah:

* Ikan gua buta bertubuh transparan (Bostrycus sp.) dari Gua Saripa di Maros.
* Kalajengking gua yang buta dan satu-satunya di Asia tenggara
* Udang gua yang buta dan bertubuh transparan (Cirolana marosina)
* Kelelawar berhidung cabang (Nyctmene cephalotes)
* Kelelawar Hipposideros dinops yang hanya hidup di Sulawesi
* Kepiting laba-laba (Cancrocaeca xenomorph)
* Kumbang buta dari jenis Coleoptera sp.
* Beberapa jenis jangkrik gua (Rhaphidophora sp.) yang belum teridentifikasi
* Laba-laba gua jenis baru sebesar telapak tangan (Heteropoda beroni)

>> karsmarospangkep.blogspot.com
Nampak Gunung Bulusaraung menjulang tinggi yg terletak antara perbatasan pangkep (balocci) dan Maros (camba). penamaan BULUSARAUNG berdasarkan dari bentuk gunungnya, Bulu berarti Gunung dan Saraung berarti Topi Nelayan.. BULUSARAUNG berarti Gunung yg berbentuk Topi Petani/Nelayan
beberapa Karst antara Maros - Pangkep
Lukisan Tangan digua Prasejarah SUMPANG BITA Pangkep
Lukisan Bianatang di Gua Prasejarah Sumpang Bita Pangkep
Lukisan Tangan di Gua Prasejarah Leang Leang MAROS. Gua Leang Leang ini berdekatan dengan Objek Wisata Air Tewrjun Bantimurung - Maros.
Mulut Goa Pra Sejarah Leang Leang - Maros
Stalaktik di dalam Gua.
Stalaknik di dalam gua
beberapa contoh binatang yg hidup didalam Gua.. kebanyakan binatang tsb buta.

MACACA MAURA (KERA HITAM) BANTIMURUNG

Bukan saja Kupukupu yg terkenal dari Bantimurung tetapi ada satu primadona khas Bantimurung yang cukup[ dikenal yaitu KERA HITAM (macaca Maura) kalo anda memasuki pintu gerbang taman wisata Air Terjun Bantimurung anda akan melihat Sebuah Patung Raksasa berbentuk Kera Putih, Konon kabarnya Kera Putih ini Sangat Sakti Mandraguna dan Menjadi pemimpin dari Kera Hitam (Macaca Maura) di Kerajaan Simbang (Bantimurung).
Macaca Maura (Kera Hitam) Bantimurung

Kera adalah anggota superfamilia Hominoidea dari ordo Primata. Dalam sistem taksonomi saat ini ada dua familia hominoid
* familia Hylobatidae terdiri dari 4 genus dan 12 spesies gibbon, termasuk Lar Gibbon dan Siamang
* familia Hominidae terdiri dari orangutan, gorilla, simpanse, dan manusia
Patung Raksasasa Kera Putih yg sakti Mandra Guna _ terletak di Pintu gerbang memasuksi Taman Wisata Air Terjun Bantimurung MAROS SULAWESI SELATAN
Lukisan tentang Kera Putih
Pemimpin Kera Hitam di Bantimurung, warna bulunya agak cerah keputihan, dan telah berumur sekitar 30 tahun
TAXONOMY

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata Class: Mammalia (Taxon entry)
Order : Primates (Taxon entry)
Family : Cercopithecidae
Genus : Macaca
Species : Macaca maura
Common name : Moor macaque

LIFESPAN, AGEING, AND RELEVANTN TRAITS

Maximum longevity : 33 years (captivity)
Source : ref. 671
Sample size : small
Data quality : acceptable
Observations :One wild born specimen lived 30.5 years in captivity, making as old as 33 [0671].

LIFE HISTORY TRAITS (AVERAGES)

Female sexual maturity : 1,825 days
Male sexual maturity :
Gestation :165 days
Weaning : 507 days
Litter size : 1 (viviparous)
Litters per year : 0.6
Inter-litter interval :
Weight at birth : 389.5 g
Weight at weaning :
Adult weight : 5,575 g
Postnatal growth rate :
Maximum longevity residual : 180 %
Banyak spesies kera saat ini memiliki status terancam karena hilangnya habitat mereka di hutan hujan tropis dan perburuan. Saat ini ada 8 genus hominoid yang belum punah, yaitu

* Homo (manusia)
* Pan (simpanse)
* Gorilla
* Pongo (orangutan)
* Hylobates
* Hoolock
* Nomascus
* Symphalangus
Menurut cerita masyaraka bahwa disekitar kawasan masih sering sitemukan sekelompok kera yang bersahutan dan bergelantungan diatas pepohonan yang dipimpin oleh seekor kera putih. dan konon dahulu kala daerah ini dikuasai oleh se ekor kera putih yang sangat sakti. Mobil angkutan terutama mobil angkutan trek sering diserang/ dibajak oleh sekelompok kera , mereka menyerang pelintas kawasan itu untuk mencari makanan instan “Indo Mie” dan Menurut cerita teman saya, Pak Idrus namanya ,sementara mengendarai sepeda motor pulang kerumah , pernah sekali waktu di stop ditengan jalan oleh sekelompok kera yang sedang melangsungkan pesta perkawinan sepasang kera, mungkin disangkanya pengantin pria
saat ini terdapat pusat rehabilitasi dan konservasi Macaca maura (Kera Hitam) di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yg dilakukan oleh BSDA Provinsi Sulawesi Selatan.
menurut salah seorang peneliti / petugas BSDA yg bertugas di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, menyatakan pada saat musim kawin kadang petugas dari BSDA menunggu / enjaga kera kera tsb hingga aman dari gangguan.. bahkan petugas tsb kadang berjaga suntuk di Pos pengendalian margasatwa didalam taman Nasional BABUL tsb.. sungguh tindakan mulya dalam menjaga kelestarian Kera Hitam yg saat ini mulai berkurang habitatnya..(by AndiSudirman Parenrengi)
Edric Druss (Canada)- Brigjen J.HARIBOWO (mantan wagub TIMOR TIMUR)-Raja Kupukupu - Mr.Thung Kim Teck (China) dalam suatu acara pameran.